Kamis, 29 November 2012

Study Tour (?) ke Ponorogo-Jogja-Goa Pindul

    Enggak kerasa, saya udah semester 7, dan itu... tua.
    Diam kalian.
    Emang, yang namanya waktu itu kalo nggak dirasain, ya nggak bakal kerasa. Sebaliknya, waktu itu kalo bener-bener dirasain, ya bakal kerasa juga.
    Ah. Ribet.
   
    Seperti arek-arek semester akhir lainnya, saya harus mengikuti program study tour. Biasanya, di fakultas Hukum Brawijaya, tiap jurusan punya acara tahunan yang rutin dilakukan. Kebetulan, saya ambil jurusan HAN (Hukum Administrasi Negara) yang tahun ini tujuan study tour-nya ke Ponorogo, Jogja, dan Goa Pindul. Oke, saya akan lebih spesifik lagi. Study tour-nya itu cuma di Ponorogo, sementara Jogja dan Goa Pindul itu... full jalan-jalan. Muahahahahahahahaha. Ehm.

    Perjalanan dimulai dari gedung Hukum Brawijaya. Kami berkumpul di sana sekitar jam 11 malem, supaya nanti bisa sampai ke Ponorogo pas pagi.
    "Anak-anak udah lengkap?" tanya Pak Ludfi, dosen yang jadi pembina kami selama perjalanan.
    "UDAH, PAAAK!" jawab arek-arek. Sebenarnya, saya ingin angkat tangan dan berkata bahwa tulang rusuk saya belum lengkap, tapi berhubung takut dikasih nilai E sama Pak Ludfi sebelum study tour dimulai, saya urungkan niat angkat tangan ini.
    "Oke, ayo berangkat!"
    Bus meluncur. Lima puluh dua orang mahasiswa (dan mahasisa) menikmati perjalanan dengan... tidur.


    Ponorogo
  
    Sesuai perkiraan, rombongan sampai di Ponorogo pagi-pagi buta. Home stay sementara udah disiapin. Awalnya, proses nurunin barang dari bus ke home stay berjalan dengan damai, sampai kami tersadar, kalo kamar mandinya... cuma ada dua.
    Lima puluh dua pasang pantat yang belum boker akhirnya harus antre dengan penuh kesabaran. Bagi yang udah di ujung tanduk, mereka terpaksa mencari toilet di tempat lain daripada harus kelepasan di sini. Saya sendiri akhirnya bisa mandi dan boker dengan selamat setelah menempuh antrean demi antrean. Pukpuk harus diberikan kepada anak yang dapat giliran terakhir. Makan tuh ampas.

    Kegiatan pertama di sini adalah mengunjungi kantor Pemkab Ponorogo. Karena bawa nama kampus, otomatis kami semua harus memakai jas almamater. Ini membuat saya cukup terharu, karena terakhir kali saya mengenakan jas almamater secara resmi itu... waktu foto KTM semester 1.

Sekali-kali jadi mahasiswa.
    Di kantor Pemkab Ponorogo, kami disambut langsung oleh Pak Bupati. Bahkan, sebelum itu, beliau menyediakan makanan prasmanan untuk sarapan kami. Kenapa begitu? Karena salah satu dari arek-arek ini adalah anak kandungnya, namanya Agung. Ya, dia adalah anaknya Bupati Ponorogo. Inilah salah satu guna dari mutual friends yang baik dan benar.

    Setelah sepatah dua kata, Pak Bupati menyerahkan semua ke asisten-asistennya. Di sini kami dijelaskan soal kota Ponorogo dan semua tradisi reognya. Ada juga penjelasan tentang adanya tempat yang bernama 'Kampung Idiot', sebuah kawasan yang banyak terdapat orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental.
    "Habis ini, kita bakal mengunjungi Rumah Kasih Sayang, itu adalah tempat buat membina orang-orang yang ada di kampung sekitar," kata Bu Asisten yang menurut saya sangat mirip sekali dengan Bu Megawati Soekarnoputri. Dia melanjutkan, "Tolong di sana jaga sikap kalian, ya."
    Kami mengangguk.
    "Oke, langsung aja. Yuk."
    Rombongan pun bergegas menuju bus diiringi mobil Pemkab Ponorogo yang sekalian nunjukin jalan. Lokasinya ternyata cukup dekat. Enggak sampai sejam, kami udah nyampe.

Disambut dengan unyuu.
    Di tempat ini saya ngeliat, gimana orang-orang yang kurang beruntung saja bisa mengolah kualitas diri yang mereka punya dengan membuat macam-macam kerajinan tangan, walaupun, ada yang hanya sebatas bisa mewarnai gambar dengan crayon. That's a spirit of life. Saya dari dulu paling anti menggunakan kata 'idiot' atau 'autis' dalam bahasa bercanda sehari-hari, bukan karena terlalu serius, tapi karena saya memang menghargai keberadaan mereka.

    Bapak-bapak dan Ibu-ibu pengurus Rumah Kasih Sayang saling melakukan tanya jawab dengan arek-arek. Bahkan ada yang sampai membeli beberapa kerajinan tangan yang dibuat di sini. Saya yang dari awal perjalanan kurang istirahat pun ngerasa berat mata. Sampai akhirnya....

Ketiduran.
    Kelar dengan semua agenda di Rumah Kasih Sayang itu, kami pulang dengan damai untuk kembali beristirahat di home stay.
    Udah. Selesai semuanya. Rangkaian kegiatan study tour ala arek-arek HAN... gitu aja. Sisanya... holiday.


    Jogja

    "JOGJAAAHHH!!!" seru Moden, yang sepanjang perjalanan di bus duduknya bersebelahan dengan saya. Dia dan yang lain terlihat sangat bersemangat, begitupun saya. Padahal baru-baru ini saya ke sini dalam rangka talkshow Idol Gagal beberapa bulan yang lalu. Mungkin... kali ini atmosfirnya beda. Rame-rame gitu loh.

    Seperti ritual pengunjung kota Jogja pada umumnya, kami berpisah menjadi beberapa kelompok untuk berkeliling daerah Malioboro. Saya memilih gabung dengan Moden dan kawan-kawan lain yang kebetulan sama-sama pasukan-duduk-di-bus-deretan-belakang.
    Panggil kami 'Jamaika'.
    Kenapa Jamaika? Ini semua karena salah satu anggota kami yang bernama Sa'id. Mungkin dikarenakan terobsesi dengan rasta-rastaan dan nggak kesampaian gimbalin rambut, Sa'id ini hobi sekali bilang, "JAMAIKA, BRO!!!" arek-arek pun jadi latah dan suka ngikutin dia. Jadilah kami... grup Jamaika, Bro!

    Rute pertama grup Jamaika adalah rumah batik Mirota Malioboro. Sebenarnya saya cuma berniat menemani pasukan ini belanja oleh-oleh, karena emang lagi nggak pengin beli apa-apa. Tapi, yang namanya niat tidak disertai iman yang kuat, saya akhirnya membeli satu jaket batik bermotif klub-klub bola dan kemeja batik bermotif Manchester United plus Barcelona untuk Ary. Ujung-ujungnya... borong.

    Kelar dari Mirota Batik dan muter-muter Malioboro, grup Jamaika berniat cuci mata di Ambarrukmo Plaza (Amplaz).
    "Naik trans Jogja aja, Bro. Nyoba-nyoba. JAMAIKA!!!" seru Sa'id seperti biasa. Tanpa menjawab, kami langsung mengikuti sarannya. Jadilah kami berjalan ke salah satu halte terdekat.
    "Halte ini lewat Amplaz, Bro?" tanya Sa'id kepada penjaga halte.
    "Bisa, Mas. Bayar dulu, baru masuk," jawab Masnya.
    Kami bayar tiketnya satu per satu dan langsung masuk ke halte. Suasana waktu itu nggak terlalu rame, karena mungkin udah masuk jam kerja. Kira-kira 20 menit, kami udah nyampe di Amplaz.

    "ASSALAMU'ALAIKUM!!!" seru Sa'id dengan lantang sambil mengangkat telunjuk kanannya tepat di depan satpam di pintu masuk depan Amplaz. 
    "Cuk! Jangan malu-maluin, cuk! Moden sewot.
    "Ah, biar! Gak ada yang kenal!" jawab Sai'd enteng.
    Sepanjang keliling ala tawaf di Amplaz, kami berusaha semaksimal mungkin untuk pura-pura nggak kenal sama Sa'id. Tapi, semua itu sia-sia. Dia tetap blak-blakan. Malah, waktu ngeliat rombongan HAN lain yang kebetulan juga lagi main ke sana, Said berteriak (lagi) dari lantai 2 ke lantai 3, "WAH, KITA KETEMU, REK! JAMAAAAIKAAAAAA!!!" Keadaan sekitar Amplaz hening seketika selama beberapa detik. 
   
    Setelah puas keliling Amplaz (dan dipermalukan Sa'id), kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat di hotel. Saya kira ini semua bakalan cepat berakhir, ternyata... saya salah. Sa'id berkata, "Bro, masa kita harus naik trans Jogja lagi? Monoton!" Kami saling melirik. Belum sempat menjawab, Sa'id menyambar, "Ayo cari mobil pick-up, kita numpang!!! JAMAIKA, BROOO!!!" Saya sebenarnya mau nolak, tapi arek-arek udah terlanjur ikutan berseru, "OKEH!!! JAMAIKA, BROOO!!!" Oke. Tancap.

    Perjuangan grup Jamaika mencari truk atau pick-up ini lumayan makan waktu. Kami berdiri cukup lama di pinggir jalan buat nyetop, tapi nggak ada satu pun yang mau berhenti. Sampai... sebuah truk lewat. Kami bereaksi cepat dengan mengelilingi truk tersebut, udah kayak geng Kapak Merah yang lagi mau membajak sebuah bus parawisata.
    "Bro, kita bareng yo! Lewat Malioboro, to?" tanya Sa'id sambil berlari-lari kecil mengikuti laju truk.
    "Waduh, Mas. Kita gak searah," jawab supir truknya.
    "Gak masalah, Bro. JAMAIKA!!!" kata Sa'id, nggak perduli.
    "Lah. Ngotot ae, Mas. Ya wes, naik sini!"
    Sa'id memberikan komando kepada saya dan yang lain, "Oke, rek. NAIK! JAMAIKAAA!!!"
    Kami pun bergegas meraih pegangan belakang truk dan naik satu per satu. Ternyata, ini adalah truk pengangkut karung semen. Bagi saya dan yang lain, ini adalah pengalaman pertama numpang truk begini. Oh, Tuhan. Mudah-mudahan saya nggak salah bergaul.
    Baru mau foto-foto, tiba-tiba truk bergoyang. Kami saling bertrabrakan.
    "Wadoh! Truknya kok belok?! STOP, BRO! STOOOP!!!" Sa'id panik sendiri. Mas-masnya ngeluarin kepalanya dari jendela, "Kubilang juga apa, Mas. Kita gak searah ke Malioboro." Akhirnya setelah menempuh nggak sampai 3 menit perjalanan... kami turun kembali.
    Krik krik krik krik krik.
    Arek-arek spontan melirik ke arah Sa'id.
    "Sa... sabar, Bro. Cari lagi!" kata Sa'id membela diri.

    Kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sambil mencari-cari tumpangan lagi. "Kita ini udah kayak butiran debu. Lama-lama nyampe Malioboro pake kaki aja, nih," kata saya, sewot, diikuti omelan arek-arek lainnya. Sa'id masih membela diri dengan menjanjikan akan mencari truk yang lebih pas untuk kami tumpangi.
    Perdebatan terus berlanjut, sampai Moden menghentikan langkah kakinya dan melihat sebuah mobil pick-up parkir di depan Indomaret.
    "Lah? Moden? Ngapain kowe di sini?" tanya Mas-mas di dalam mobil pick-up tersebut. Ternyata... Mas ini adalah teman lamanya Moden. Mereka bersalaman dan ngobrol sedikit. Di sini saya menemukan secercah harapan. Dan, benar saja, setelah basa-basi dikit, Moden berkata, "Rek. Ayo naik. Kita dianter langsung ke depan bus."
    "JAAAMAAAIKAAAAAAAAAA!!!" teriak Sa'id dari belakang.

Sai'd: Kaos putih, berdiri. Moden: Celana sobek, paling depan. Indra: Cari aja. Paling ganteng.

    Gerimis menemani perjalanan pulang grup Jamaika dengan mobil pick-up kepunyaan mutual friends-nya Moden. Saya bersyukur rombongan ini nggak nyasar terlalu jauh. Dan untung saja kami nggak dibawa ke Sarkem untuk dioperasi kelamin dan kemudian dijual.
    Kami sampai dengan selamat di bus. Sesaat setelah kami naik, hujan turun dengan sangat deras.
    "Waduh. Kalian nyampe tepat waktu," kata Pak Ludfi yang udah nungguin kami daritadi. "Ayo, lanjut ke hotel. Kita istirahat."

    Sisa hari di Jogja saya habiskan dengan tidur, tidur, dan tidur. Kalo lagi capek, saya paling nggak bisa ngeliat kasur menganggur.


    Goa Pindul


    Dengan jam tidur yang cukup, tenaga yang udah terisi, dan semangat yang  telah kembali, rombongan HAN siap menuju tempat wisata terakhir yang searah dengan jalan pulang ke Malang: Goa Pindul.

    

    Agung selaku ketua panitia memberikan pengarahan, "Jadi nanti kita dibagi berkelompok buat masuk ke Goa Pindul. Pake ban."
    Hah? Pake ban? Fix. Cuma basah-basahin pantat, batin saya.
    Ngeliat kami bingung, Agung melanjutkan, "Udah nanti rasain sendiri. Uenak, lah, pokoknya."
    Hmmmm. Kayaknya menarik.
    Arek-arek langsung bersiap.

    Kelompok saya dapat giliran maju duluan. Kali ini, grup Jamaika terpisah semuanya. Saya sekelompok dengan Agung.


"Doakan kami, ya!" ala benteng Takeshi.
    Tentunya ada pemandu yang menemani kami, namanya Mas Yoyo. Dia menjelaskan gimana kami nggak boleh terlalu berisik di dalam, dan hati-hati ngejaga mulut. Bukan maksud apa-apa, tapi di dalam itu katanya banyak kelelawar. Kalo pada cengengesan terlalu lebar, takut ada kelelawar yang nyungsep ke mulut.
    "Intinya nanti tenang aja. Ikutin komando saya," kata Mas Yoyo, "Ayo semua, bannya ditaroh di air, pantatnya dimasukin duluan. Ati-ati."
    *plung plung plung*
    Kira-kira begitulah bunyi pantat kami yang dicelupkan ke air satu per satu.

Pose yang cukup cute.
    Mas Yoyo kemudian menuntun kami pelan-pelan masuk ke goa. "Goa ini ada tiga zona. Terang, remang-remang, dan gelap. Waktu tempuh sekitar setengah jam lebih," jelasnya. Dia kemudian menerangkan satu-satu jenis batu-batu yang terdapat di dalam goa. Saya nggak terlalu hapal jenis batu yang dijelasin. Yang saya rasakan di saat seperti ini cuma satu: Bebas. Tanpa gadget. Tanpa beban pikiran. Dan tetap tanpa jodoh. Sepanjang goa cuma ada manusia dan produk alam.

Senyum-senyum-takut-diterkam-siluman-buaya-dari-bawah.
    Memasuki zona remang-remang dan gelap, laju perjalanan agak diperlambat, karena pola goa udah agak menyempit, dan nggak bisa asal gerak. Mas Yoyo terus menjelaskan secara rinci tiap bagian dari goa kepada arek-arek sementara saya asyik lihat-lihatan dengan rombongan kelelawar yang lagi gelantungan di atas. Sebenarnya... rada takut kejatuhan pup juga, sih. Untungnya, aman-aman saja.

    Ini kali pertama saya masuk ke dalam goa-goa alam macam begini. Rasanya dingin, senyap, dan... misterius. Emang bener, kayak di acara-acara National Geographic. Walaupun bagi sebagian orang ini biasa saja, tapi, tetap, bagi saya, ini sesuatu.

    Setengah jam sudah berlalu, cahaya matahari dari luar udah kelihatan. Ah, itu dia jalan keluar.


Masih pada hidup.

    "Di luar sini, orang-orang biasanya manjat ke atas batu sebelah sana, dan lompat ke bawah. Airnya dalam. Aman, kok. Siapa mau coba?" tanya Mas Yoyo.
    Tanpa pikir panjang, kami naik satu per satu ke bebatuan tinggi yang dimaksud.
    "Waduh, kok tinggi ya?" tanya saya ke arek-arek. Enggak usah dijawab pun, saya udah tau, kalo jarak dari atas ini ke air di bawah sana itu... tinggi sekali.
    "Tujuh meter, Mas. Kira-kira," jelas Mas Yoyo dari bawah sana.
    Saya melotot, "Tu... juh... meter...."
    "Kenapa? Takut, Ndra?" tanya Desty, salah seorang cewek di dalam kelompok ini. "Sini. Aku duluan," katanya, sombong.
    Arek-arek membuka jalan untuk Desty supaya dia jadi pelompat pertama.
    "Liat baik-baik." kata Desty.
    Dia melompat.
    ....
    ... dan... menjerit.
    "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"

Masih menjerit.

... masih menjerit.
    *PLAKKKKKK*

    Karena gugup, Desy mendarat dengan tidak mulus. Selangkangan duluan. Alhasil, yang kedengeran adalah bunyi *PLAK*, bukan *BYUR*
    "ADOH. BOKONGKU, REK!!!" teriak Desty dengan wajah pucat.
    Kami ngakak sepuasnya di atas.
    "DIAM!!! Ayo, Ndra!!! Giliranmu!!!" Desty sewot.

    Saya mengatur napas, ambil posisi, atur napas lagi, dan...






"IBUUUUUUUUUU!!!"
    *BYURRRRRR*

    Ini adalah lompatan tertinggi yang pernah saya lakukan seumur hidup. Kalian pernah nggak, waktu kecil, tiba-tiba kebangun tidur mendadak gara-gara mimpi jatuh ke dalam air, eh, pas bangun... udah ngompol? Nah. Ini bisa dibilang versi nyatanya. Tapi... tenang. Saya nggak ngompol.
    Untungnya, saya berhasil jatuh dengan benar, yaitu kedua kaki mendarat duluan. Enggak ada rasa sakit sama sekali kayak si Desty tadi.
    "Bagus... bagus...," kata Mas Yoyo. "Ayo, berikutnya!"

    Sekarang giliran Agung. Dari raut mukanya, dia kelihatan tak gentar. Tanpa basa-basi, dia maju, membetulkan posisi pelampung badan, dan langsung melompat...


... sambil berpose.
    *BYURRRRRR*

    Agung mendarat dengan cantik, mulus, dan indah. Sesaat setelah nyebur, dia mengangkat kedua tangannya, masih dalam diam. Arek-arek bertepuk tangan.
    "Wuoooooh, mantep, Gung!" seru Mas Yoyo.
    Saya nggak mau kalah.
    "Mas! Aku naik lagi, ya!" kata saya.
    "Lho, silahkan, nggak ada yang larang," jawab Mas Yoyo.
    Saya kembali masuk ke antrean.
    Satu per satu arek-arek melompat dengan gayanya masing-masing. Bunyi 'PLAK' dan 'BYUR' terdengar silih berganti. Sampai akhirnya giliran saya datang lagi.

    Kali ini, posenya harus paling keren, dan paling sombong, batin saya.
    "Siap, Ndra? Awas, nanti kamu teriak lagi, lho!" seru Desty, ngejek, tanpa memperdulikan ekspresinya sendiri di awal tadi.
    Saya diam, tarik napas dalam-dalam, melompat, dan berpose.


Fix. Cool abis.
    Saya berusaha mempertahankan gaya keren ini. Tapi... semakin ke bawah, rasanya tambah serem. Ekspresi muka saya pun berubah jadi semakin abstrak. Rasa takut emang nggak bisa bohong.
    Hasilnya...

Muka ngeden.
    Dari atas, saya bisa melihat arek-arek tertawa ngeliatin muka saya waktu mau mendarat.
    
    *BYURRRRR*

    Posenya... gagal.

    "BAHAHAHAHA!!! MUKAMU, NDRA!!! BAHAHAHAHA!!!" seru Desty. Saya cuma bisa terdiam.
    Bahkan, Mas Yoyo pun ikut tertawa, "Hahaha... Mau naik lagi, Ndra?"
    "Cukup, Mas," jawab saya, kalem. "Cukup."
    Arek-arek cengengesan.
    "Oke, oke, ayo kita balik ke rombongan," kata Mas Yoyo, sambil menuntun kami semua keluar dari air.

,,,,,,

     Sampai di penghujung acara, tidak ada satu pun anak yang tertinggal atau kena musibah apapun. Kami berhasil melalui semuanya dengan selamat. Alhamdulillah~

Muka-muka sebelum tepar.
    Berakhir sudah study tour dan jalan-jalan pasukan jurusan HAN 2012 kali ini. Momen kebersamaan kayak gini itu penting buat ngejalanin kuliah kedepannya. Karena dari kebersamaan, bakal muncul rasa persaudaraan yang erat. Kalo ada kegiatan model beginian di kampus, kalian ikut aja, nggak bakal nyesel, kok. 
    "JAAAMAAAIKAAA!!!"

Kamis, 15 November 2012

Cover dari Buku Cerita Hati: Ini Cinta Pertama

    Info lanjutan soal proyek gabungan Bukune yang melibatkan di antaranya saya, Bara (@benzbara_), Risa (@risa_saraswati), dan beberapa penulis lainnya, udah ada, nih. Info sebelumnya bisa dilihat di postingan saya yang ini.
    Jadi, judul fix dari buku ini adalah:

Cerita Hati: Ini Cinta Pertama

Cover depan dan belakang.
    Waktu terbitnya ya kisaran awal Desember. Buku ini sebenarnya menceritakan faka-fakta dari pengalaman masing-masing penulis dalam kasus cinta pertamanya.
    SIAPAKAH ORANG YANG MENJADI CINTA PERTAMA SAYA? BAGAIMANA KEJADIAN-KEJADIANNYA? KAPAN ITU SEMUA TERJADI? KENAPA VINO G. BASTIAN BELAH TENGAH DAN MASIH DIMAAFKAN DUNIA? Tunggu aja, yak! Pokoknya, cerita saya ada di bab 4: Tulang Rusuk Susu. Beh,  ibarat album musik, single andalan itu kan biasanya ditaroh di urutan 3 atau 4. Mayan, lah.
    Jadi, Kalo nemu cover beginian di toko-toko buku nanti, harap dibawa ke kasir, dan dibeli. Oke? Sip.

Rabu, 14 November 2012

Talkshow Idol Gagal: Jakarta-Bogor-Bekasi-Bandung, November 2012

    Hore! Idol Gagal ada talkshow lagi! Setelah kemarin mengitari Jogja-Solo-Semarang, sekarang saatnya Bogor-Bekasi-Bandung. Kali ini, saya sendirian. Tidak ada partner. Jadi, ini bisa dibilang talkshow tunggal pertama. Ah, another pengalaman again~

    Perjalanan dimulai hari Kamis, di kota Jakarta, 8 November 2012. Setelah mendarat dari bandara Malang, saya dijemput oleh Fial (@syafial) dan Mbak Re (@resitare) dari Bukune. Kami bertiga kemudian menuju ke salah satu hotel di daerah Kemang.
    "Ini kamarnya, Ndra. Lo sendiri aja, ya. Besok pagi gue jemput." kata Fial sambil membuka pintu kamar hotel.

    *pintu hotel terbuka*

    Di sini, terlihatlah sebuah penampakan kamar yang sangat feminim:


    "Kamar ini... buat 1 orang? Errr...."
    "Iya. Emangnya kenapa? Lo mau gue temenin di sini ama Re?"
    "Errr... Enggak usah, cuma agak shock aja liat dindingnya."
    "Lah? Dindingnya bagus, kok. Nikmatin aja. Ati-ati, loh. Ini malem Jumat."
    ".... Oke...."
    Tanpa basa-basi lagi, Fial dan Mbak Re cabut dari hotel.
    Sekarang, saya terjebak di dalam sebuah kamar hotel double bed yang serba pink di malam Jumat, dan... sendirian. Entah, ini harus ngerasa takut, geli, atau... ngenes.

    Keesokan harinya, saya berhasil melewati malam nano-nano itu dan bisa bangun tepat waktu. Untungnya, tidak ada penampakan pocong berwarna pink seperti yang sudah saya takutkan sebelumnya. Kamar hotel ini ternyata imut-imut-aman.
    "Enggak ada yang ketinggalan?" tanya Mbak Re, mengingatkan.
    "Mudahan nggak ada, Mbak."
    "Bagus. Ayo berangkat. Fial udah di mobil, kita mampir ke kantor dulu, ya."
    Kantor? Hmmm... kantor Bukune dan kawan-kawan? AgroMedia! Ah. Ini benar-benar zezuatu. Akhirnya ada juga kesempatan main-main ke kantor yang sudah menerbitkan buku saya ini. Cihuy~

    Kata pertama yang saya pikirkan ketika pertama kali melihat kantor AgroMedia ini: teduh. Ya, di antara 'anget'-nya kota Jakarta, kantor AgroMedia hari itu di mata saya terlihat tenang, santai dan teduh.

    
    Ketika masuk, saya melihat pemandangan yang sibuk, tapi masih tetap dalam suasana santai. Dari tiap ruang redaksi, ada meja-meja kerja yang di atasnya selalu ditumpuki puluhan buku, komputer plus laptop yang selalu menyala, dan bunyi-bunyi 'tak tak tak tak' dari orang mengetik. Semuanya... enak dilihat. 


    Melihat saya yang agak tercengang, Fial berkata, "Beginilah kantor kita, Ndra. Sorry berantakan, yak."
    "Ah. Enggak apa-apa kali. Justru ini yang enak dilihat," kata saya, sambil terus memperhatikan sekeliling. "Seru... seru...."
    Memang, baru kali ini saya menyaksikan secara langsung kesibukan kantor penerbit. Jadi, maklum saja kalau agak canggung.
    Fial dan Mbak Re membawa saya masuk ke ruang redaksi Bukune yang letaknya dekat dengan ruang redaksi GagasMedia. Ya, Bukune dan GagasMedia adalah 2 penerbit favorit dari koleksi buku-buku saya di rumah.
    Di ruang redaksi Bukune, Fial memperkenalkan saya ke semua orang. Beberapa sudah saya kenali sebelumnya, salah satunya Mbak Gita. Dia adalah orang yang punya spesialisasi membuat design cover buku-buku dari Bukune, termasuk Idol Gagal. Saya dan Mbak Gita sebelumnya hanya berkomunikasi via e-mail, tapi, sekarang... kami bertemu langsung. Sesi perkenalan dengan orang-orang Bukune jadi semacam kopi darat dadakan.
    
    Setelah puas di kantor AgroMedia, saya dan Fial melanjutkan perjalanan ke Bogor. Mbak Re kali ini tidak bisa ikut karena ada kerjaan di kantor. Jadilah, kami berdua yang menghadapi semua. Yiha~

    1. Bogor

    Tidak ada hambatan selama perjalanan ke Bogor ini. Saya dan Fial--yang sebenarnya masih belum terlalu hapal jalan--bisa datang tepat waktu di Gramedia Elos.
    "Ah. Nyampe juga. Ini namanya Bogor, Ndra," kata Fial, seakan-akan Bogor itu adalah kota bawah laut yang jarang sekali dikunjungi manusia.
    "Iya... iya..., tau, kok. Udah pernah ke sini."
    "Oh ya? Lo pernah ke sini sebelumnya? Kapan?"
    "Dulu, ke Taman Safari, ama keluarga, waktu masih balita."
    "Balita...," Fial memasang muka datar, "Apa kata lo, dah."

    Talkshow dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB dan kami sudah tiba di tempat sekitar 13.30 WIB. Ketika masuk ke Gramedia, sudah ada beberapa orang yang datang di sekitar tempat acara. Fial menyuruh saya masuk dan menunggu di dalam kantor sementara dia mengurus perlengkapan. Di dalam kantor, karyawan-karyawan Gramedia yang nampaknya baru saja ganti warna seragam dari putih-hitam ke merah-hitam mengajak saya untuk berfoto. Entah kenapa, warna kami semua terlihat kontras sekali.



Bukan tim sukses Manchester United.
    *jarum jam menunjuk angka 2*

    Talkshow dimulai! Arek-arek Bogor sudah terlihat berkumpul mengelilingi tempat acara. Saya bisa mengintip dari dalam kantor, mereka membawa buku Idol Gagal masing-masing. Ah. Indahnya pemandangan arek-arek yang membawa hasil kerja saya itu. :')

    Pembawa acara talkshow kali ini adalah Rida (@ridarachma), salah satu admin dari @imagindration (kumpulan pembaca setia saya) yang secara kebetulan tinggal di Bogor.
    "Langsung aja ya, kita panggil Indranya," kata Rida, sambil kedip-kedip mata beberapa kali. "Ayo sini, Maaas~"
    Mendengar panggilan Rida, saya mengatur napas, dan keluar. Gitar sudah di tangan. Mari ngamen dulu~ 


    Bersama Rida, saya melakukan talkshow seperti biasa, membahas luar-dalam buku Idol Gagal, sekalian memperkenalkan buku ini ke orang-orang yang belum tahu. Bisa dilihat juga beberapa insan yang memakai jersey Manchester United. Fufufu. Bagus~ bagus~ #MUFC! #GGMU!
    
"Jadi, kalo bukunya hilang, beli lagi! Hilangin lagi! Beli lagi! Begitu terus!"
    Acara selesai sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah book signing dan mengucapkan kalimat pergi untuk kembali ke arek-arek Bogor, rombongan kami singgah sebentar di Kedai Kita untuk mengisi perut, dan kembali ke Jakarta.   

    2. Bekasi


    Untuk talkshow di Bekasi, selain Fial, pasukan akan bertambah satu orang, yaitu Oka (@landakgaul). Kenapa harus Oka? Karena kami berdua sepakat untuk saling-tukar-jadi-pembawa-acara, karena malamnya Oka ada bedah buku Analogi Cinta Sendiri di daerah Bekasi juga.


*rebahan santai di kursi belakang*
    Awal perjalanan kami terasa lancar-lancar saja, Fial dan Oka yang memang tinggal di Jakarta saya pasrahkan untuk duduk di depan, sampai... Fial berkata,
    "Kayaknya tadi kita harus belok, deh. Ini kok gue lurus aja ya...."
    Oka terdiam.
    Saya terdiam.
    Jalan lurus yang kami hadapi ini sedang macet padat, sementara belokan yang seharusnya kami lalui tadi sudah jauh kelewatan, dan ini... jalan tol gede. Tidak ada tempat untuk ganti jalur.
    "Oke. Kita stuck. Terpaksa ngikutin arus," kata Fial dengan muka datar, "Nanti kalo ada belokan keluar tol, ambil itu aja, cari jalan balik sambil muter."
    Oka dan saya masih terdiam.
    "Ndra, lo punya nomer hapenya Magneto, nggak?" celetuk Oka.
    "Buat apa? Pindahin mobil? Zzzzzz...." kata saya. Sebenarnya saya punya nomer hapenya Stephen Chow, dia kan jago mindahin mobil di film Shaolin Soccer, tapi untuk kali lebih baik jangan dulu.

    Setelah belokan demi belokan kami lewati, gas-rem dadakan yang bertubi-tubi, bolak-balik buka aplikasi maps di iPad, akhirnya... sampai juga kami di Mega Bekasi.

    "ITU DIA!!! MEGA BEKASI!!!" seru saya ketika baru saja keluar dari tol dan melihat tulisan 'Mega Bekasi' terpampang dari kejauhan. Kami bertiga menghela napas.
    Jam menunjukan pukul 14.30 WIB. Ya... walaupun agak telat, kami lega bisa menginjakkan kaki ke Gramedia dengan selamat.

Oka di antara arek-arek Bekasi.
"Jadi...coba catatkan pin BB kalian satu-satu...."
    Dipandu Oka, talkshow bersama arek-arek Bekasi berjalan rame dan menyenangkan.


Toreng toreng toreeeng Jreng jreng jreeeng~
    "Buat jomblo-jomblo yang nggak tau mau ngapain di malam Minggu abis talkshow ini, nanti malem gue ada acara bedah buku Analogi Cinta Sendiri di Kopitiam Oey. Pada datang, yak!" seru Oka di penghujung acara.
    "IYA, KAAAK!" jawab jomblo-jomblo itu.
    Kami berdua kemudian masuk ke kantor Gramedia ditemani Fial dan Mas-mas Gramedia untuk menyiapkan acara nanti malam.

    Kopitiam Oey Bekasi


    Seperti yang sudah direncanakan, kali ini, di bedah buku Analogi Cinta Sendiri, giliran saya yang menjadi pembawa acaranya. Pukul 19.15 WIB, kursi sudah penuh dengan arek-arek Bekasi yang biasa dibully Oka lewat twit-twitnya yang menindas.

    "Halo semuanya. Ini malam Minggu, tanggal bagus, 10-11-12, dan kalian malah datang ke sini buat nemuin si Oka. Turut berduka buat kalian...," kata saya membuka acara bedah buku ini diikuti sorakan jomblo-jomblo yang tersinggung.

    Oka membuka acara dengan menyanyi beberapa buah lagu sambil main gitar. Sebenarnya, kami berdua ingin duet, tapi, belum sempat latihan, dan... belum mau melihat jomblo-jomblo yang hadir di sini menderita lebih jauh karena mendengarkan gabungan suara kami.

    Sesi berikutnya adalah penjelasan Oka mengenai isi inti dari buku Analogi Cinta Sendiri, bagaimana dia mengumpulkan inspirasi untuk menciptakan kalimat-kalimat galau yang tidak hanya untuk dia sendiri, tetapi untuk orang lain rasakan juga.
    Pada sesi tanya jawab, bukan suasana bedah buku yang terasa, melainkan curcol. Berhubung bukunya Oka ini ya memang bercerita soal masalah hati, secret admirer, PHP, dan sebangsanya. Malah, ada satu orang arek Bekasi yang curhat sambil menangis tersedak-sedak saking menghayatinya, namanya Niken. Saya masih ingat betul, dia mengancam, "CERITA AKU INI JANGAN DITWIT LOH, ABANG-ABANG!" disertai mata melotot yang serius. Oke, Niken. Oke. Saya nggak akan pernah ngetwit soal cowok yang sudah bikin kamu naksir mati-matian. Saya nggak akan pernah ngetwit soal dia yang pernah kecelakaan di dekat rumah kamu, kamu tolongin, Papanya bilang terima kasih sama kamu, tapi dianya tetap jutek sama kamu. Saya nggak akan pernah ngetwit soal begituan. Percayalah, Niken. :)

Carilah sosok Niken.
    Arek-arek Bekasi yang sebelum datang ke acara ini galaunya masih ada di hati, mungkin sekarang sudah naik drastis ke kuping, karena penampilan penutup acara adalah live Soundcloud performance ala Oka diiringi gitar saya yang memetik nada lagu Someone Like You. Beh. Pedih.
    Dengan penutupan yang sendu dari Oka dan saya di akhir bedah buku, selesai sudah rangkaian acara di Bekasi. Badan ini sudah mulai nyut-nyutan, dan itu bakalan terus terasa karena setelah ini saya dan Fial akan langsung berangkat ke Bandung.
    "Wah. Kalian lanjut ke Bandung ya? Gue mah balik Jakarta langsung, ada kerjaan," kata Oka. "Ati-ati ye!"
    Kami kemudian saling berpelukan manja mengucapkan terima kasih, dan cabut menuju kota tujuan masing-masing. Oka ke Jakarta. Saya dan Fial ke Bandung.

    3. Bandung

    "Tenang, Ndra. Di Bandung ini bukan talkshow, kok. Cuma dateng ke tempat ngopi gitu, nongkrong-nongkrong sambil book signing. Santai aja," kata Fial kepada saya yang sudah lemas ini. "Lo masih kuat, kan?"
    "Kuat kok, cuma gini doang. Lo sendiri pasti juga capek nyetir kan," jawab saya.
    Entah kenapa, suasana ini malah jadi aneh. Kami seperti sepasang kekasih yang saling mengkhawatirkan kondisi satu sama lain dan mungkin sebentar lagi akan cipokan di dalam mobil.
    "Fial. Jangan sampai kita cipokan di sini. Kumis lo geli. Gue ogah," kata saya dengan muka serius. Fial hanya menaikkan alisnya dan mengangguk yakin. Syukurlah, dia nggak kebawa suasana.

    Ini kota Bandung. Berarti Fial sekalian pulang kampung, karena dia memang orang sini. Saya dipilihin hotel di daerah Dago karena dekat dengan tempat acaranya nanti.

    "Ini udah jam 1 dinihari. Lo istirahat yang bener. Nanti gue jemput siang sekitar jam 2. Acaranya jam 3, kok. Oke?" kata Fial. Saya mengangguk, langsung menuju kamar, nemu kasur, nonton bola sebentar, dan langsung tidur.

    Hari terakhir perjalanan panjang ini pun tiba. Saya dan Fial berhasil menemukan Warung Ngebul punya Vabyo (@vabyo) dan disambut arek-arek Bandung yang sudah menunggu dengan geulis.



Yang di dalam nggak kebagian foto. :P
Pendataan tulang rusuk region Bandung.
    Suasana di Warung Ngebul ini santai, lebih banyak ngobrolnya, tanpa pembawa acara. Benar-benar jadi anak nongkrong lah. Gaul pokoknya. Selain arek-arek Bandung, datang juga si Genna (@gennasatria) dan Amank (@AmankQadafi) yang turut meramaikan acara dengan ikut duduk-duduk menemani Fial.
    Keseluruhan, acara berjalan tanpa gangguan. Arek-arek Bandung kembali ke habitatnya masing-masing dengan damai, saya dan rombongan juga kembali beristirahat dengan asoy.
    Sisa hari saya nikmati dengan jalan-jalan mengitari Bandung bersama Genna dan kawan-kawan sementara si Fial sibuk mengedit tulisan naskah bukunya Bena (@benakribo) yang masih dirahasiakan.

    Berakhir sudah rangkaian kejadian di Jakarta-Bogor-Bekasi-Bandung (8, 9, 10, dan 11 November 2012) ini. Terima kasih buat arek-arek di tiap kota yang sudah capek-capek datang ke acara saya. Terima kasih juga buat arek-arek yang memberikan oleh-oleh dalam bentuk apapun, pasti akan saya simpan dengan baik. Terima kasih buat semua pihak yang sudah terlibat. Semoga kita semua bisa bertemu lagi! Amin!  

*sembur air ke udara*

Jumat, 19 Oktober 2012

Surat Balasan Untuk Ayah

    Almarhum Ayah di waktu mudanya adalah orang yang suka menulis. Apapun bentuknya. Mulai dari cerita-cerita singkat, surat, sampai puisi. Salah satu puisi yang dibuatnya tercantum di buku Idol Gagal. Kalian yang sudah membaca tentu tahu isinya.
    Berhubung beliau setelah menikah dengan Ibu masih harus sekolah Kepolisian  ke berbagai Kota, menulis surat adalah salah satu cara untuk berkomunikasi jarak jauh. Memang, ada yang namanya telepon. Tapi, jaman dulu, surat-menyurat itu masih menjadi pilihan banyak orang, termasuk Ayah dan Ibu.

    Sebagai pasangan yang unyuu, Ibu masih menyimpan semua surat-surat yang dikirimkan Ayah, mulai dari jaman pacaran sampai menikah. Semuanya masih tersusun rapi di sebuah kotak. Kotak yang penuh dengan kenangan. Kertas dari surat-surat tersebut sudah banyak yang kotor, sobek, dan luntur warnanya. Untungnya tulisan-tulisan tangan Ayah masih bisa dibaca.
    Sudah beberapa kali saya mendapati Ibu di kamar sedang mengutak-atik isi kotak surat itu, sekedar merapikan dan membaca kembali tulisan-tulisan Ayah. Sebagai anak kandung, saya bisa mengerti perasaan Ibu. Baginya, kotak itu adalah kumpulan obat rindu. Rindu yang luar biasa, karena dipisahkan nyawa. Rindu yang besar, karena ditahan dengan sabar. Rindu yang sendu, karena terlalu ingin bertemu.

    Beberapa hari yang lalu, tanpa sepengetahuan saya, Ibu membuka kembali kotak itu. Dan melalui akun Twitternya (@syahriahyusuf), beliau meng-upload sebuah foto dengan isi twit: "Surat Ayah from Bosnia to @indrawidjaya...."
    Setelah membaca twit tersebut, sepulang dari kuliah, saya langsung menanyakan surat itu kepada Ibu.
    "Mana suratnya, Bu? Itu waktu aku abis lulus TK ya?"
    "Iya, Nak. Dulu kan Ayah tugas di Bosnia. Dia masih gaya-gayaan baru ngetik di komputer, makanya bikin surat model begini. Waktu itu umur kamu masih enam tahun, baru bisa baca." jawab Ibu, sambil memegang surat yang dimaksud.
    Saya akhirnya memegang surat dari Ayah secara langsung. Kertasnya ukuran A4, lipatannya masih belum berubah dari yang dibuat Ayah, dan tulisannya... capslock semua. Saya tersenyum sedikit, dan membacanya....


    Setelah membaca surat itu, saya menghela napas.
    Mungkin, ketika saya membacanya dulu di umur enam tahun, tulisan itu hanya akan menjadi bahan saya untuk memperlancar skill membaca. Tapi, saat ini, di secarik surat kecil itu, saya melihat banyak pesan yang tersirat. Pesan yang tidak main-main. Pesan yang tiap kalimatnya bisa dijabarkan panjang lebar. Pesan yang benar-benar dibuat seorang ayah untuk kebaikan hidup anaknya.    
    "Ingat ya, Nak. Surat-surat ini jangan sampai hilang. Cuma ini hasil tulisan dari tangan Ayah yang bisa Ibu simpan. Jaga baik-baik." kata Ibu, mengingatkan. Saya mengangguk, dan mengembalikan surat itu kepada Ibu.

    Sampai sekarang, surat-surat dan kotak itu masih tersimpan dengan rapi di dalam kamar Ibu. Saya juga masih suka membaca berulang kali dan merenungi isi dari tiap kalimat simpel yang ada di surat Ayah untuk saya itu.

    Dalam kesempatan ini, saya ingin membalas surat Ayah. Hanya blog ini yang menjadi saksi bisu dari jawaban saya, dan hanya kalian, para pembaca blog saya, yang menjadi saksi hidupnya.


,,,,,,


 Halo, Ayah!

Maaf, aku baru bisa balas suratnya sekarang. Surat itu ditulis waktu aku umur enam, ya? Sekarang umurku dua puluh dua. Berarti... aku telat enam belas tahun. Sekali lagi, maaf ya, Yah. 

Iya, Yah. Aku bakal rajin belajar, dan nggak akan nakal. Enggak ada gunanya juga jadi nakal, cuma bakal bikin malu Ibu. Kalo soal ngebut dan sebagainya, mudah-mudahan itu nggak akan aku lakuin. Muka kayak aku ini nggak pantes buat kebut-kebutan di jalan. Mending main PS di rumah.

Ayah tau sendiri, aku susah kalo disuruh tidur siang. Dulu waktu di Balikpapan, Ayah suka ngiming-ngimingi aku ngajak jalan kalo tidur siang dulu. Ya... itu emang berhasil. Tapi, susah buat dijadiin kebiasaan. Aku tidur siang kalo lagi bener-bener tepar, Yah. Oh iya, sekarang si Ary badannya udah lebih tinggi daripada aku. Dia 184, aku 180-an. Kami beda 4 senti. Kok bisa, Yah? Dia tumbuh terlalu pesat. Err... biar deh. Toh, dia udah sukses masuk Akpol nerusin jejak Ayah. Pantes-pantes aja kok badan segitu, biar senior-seniornya pada takut juga.

Mainan yang Ayah beli buat aku sama Ary masih ada, loh. Lengkap. Di rumah sekarang, mainan-mainan itu sebagian disusun di lemari kaca ruang depan, sebagian lagi... tersimpan rapi di kamarnya Ary. Makasih ya, Yah. I'll keep those toys!

Kalo masalah berhitung, aku kurang suka, Yah (dan memang kurang bisa). Aku kayaknya lebih condong ke membaca, sama menulis juga. Aku udah bikin buku lho, Yah. Lumayan, kan? Hobi aku nulis di blog yang Ayah bilang harus dimantapkan ini sekarang bener-bener jadi pekerjaan. And now, I love this job.

Sekarang aku jadi kepala keluarga, dan tugas kepala keluarga itu ya jagain semua anggotanya, kan? Pasti, Yah. Aku bakal berusaha buat ngejagain Ibu sama Ary. Kami juga bakal saling jaga, kok. Namanya juga tinggal bertiga. Saling jaga itu wajib!

Ajaran Ayah yang "Kalo kalah, nggak boleh nangis, kalo menang, adik Ary diberi." juga selalu diucapkan sama Ibu kok, Yah. Jadi Ayah tenang aja, kami berdua nggak akan mengecewakan Ayah sama Ibu. Sebagai sodara kandung, aku ama Ary sekarang bisa tumbuh dengan kepala yang dewasa, kok. Enggak ada lagi tengkar-tengkar sepele kayak jaman sekolahan dulu (apalagi timpuk-timpukan pake mainan Pokemon).

Kerja yang Ayah lakukan selama hidup udah lebih dari cukup. Ibu, aku, sama Ary udah sangat bisa hidup dari hasil keringat Ayah. Suatu hari nanti, aku juga akan ada di posisi Ayah, dan semua hal positif yang Ayah tanamkan di kepalaku akan aku tumbuhkan dengan baik.

Seperti yang Ayah minta, aku udah balas surat ini. Walaupun Ayah nggak bisa baca balasan ini secara langsung, aku yakin, Ayah selalu ada di dalam pikiranku, pikiran Ary, dan pikiran Ibu. Ayah pasti bisa membaca, mendengar, dan merasakan balasan surat ini dari atas sana.

Terima kasih banyak, Yah. Terima kasih banyak atas semua yang udah Ayah lakukan selama menghidupi keluarga. Aku, Ary, sama Ibu akan ngelanjutin semuanya. Terima kasih juga udah mengganti nama belakang aku sama Ary jadi 'Widjaya'. Karena dengan nama 'Indra Widjaya' dan 'Arya Widjaya', kami berdua bisa bernapas bangga hidup dengan menyandang nama Ayah.

I miss you, Father.


Indra Widjaya.